“Aku, Tanira Bhumi Syair” merupakan sebuah tragedi kemanusiaan dan ancaman ekologis. Monolog ini menceritakan perjuangan seorang perempuan rimba dalam mempertahankan tanah kelahiran ulayatnya dari cengkeraman industrialisasi.
Dengan latar hutan yang mencekam, naskah ini menggambarkan tokoh Tanira yang terikat sebagai sebuah simbol pembungkaman paksa terhadap masyarakat adat yang dianggap sebagai penghambat “percepatan ekonomi”. Alurnya berkelindan antara memori manis tentang petuah leluhur yang menghargai alam sebagai ibu, dengan realitas pahit di mana hutan hanya dianggap sebagai bagian dari investasi.
Naskah ini menyuarakan kritik keras terhadap konsep pembangunan tanah,hutan adat dan penduduk asli yang mendiami hutan tersebut. “Aku, Tanira Bhumi Syair” adalah sebuah jeritan nurani dari hati tentang luka hutan yang juga menjadi luka tubuh manusianya, sebuah kesaksian terakhir di ambang kehancuran alam yang menuntut kita untuk mempertanyakan kembali arti kemajuan yang sesungguhnya.
Our Cast
Meet the performers bringing this play to the stage.
Artistic Team
The creative minds behind the production.